Memaparkan catatan dengan label usman awang. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label usman awang. Papar semua catatan

Selasa, 18 Ogos 2009

Bintang Di Langit Zaman (Zulkifli dalam kenangan)

HANYA semalam baru dijulang kemenangan harum
direnggut mengejut ketika teman dan lawan merasa kagum
meninggalkan terkulai dua hati yang masih muda
untuk berteriak dan memanggil-manggil nama yang telah tiada.

Kematian! Kematian dari suatu kehidupan yang mulia
yang telah ditinggalkan, jadilah ia ukiran kenangan
bahawa di tanah ini seorang daripada lelaki berani
yang berdiri menjunjung keyakinan, dan berkata
Islam tidak pernah takut kepada apa saja
laksana dirinya dalam cahaya kebenaran yang dipeluknya.

Demikian maut telah bersabda pintu hidup pun tertutup
maka terbukalah lahad dan keranda seiring bersanding
di pelamin putih didindingi tanah-tanah yang dingin
dan para malaikat mengelilingi lalu merestui.

Begitu pendek nafas ini berdetik dalam usia hidup
setiap manusia dalam perjalanan ke pintu maut
tapi kematian seorang berjasa lebih memberi erti
kerana kematian itu sendiri menyebabkan ia tidak mati
seperti sekarang kita menyebut-nyebut namanya, dan ia
telah menjelma menjadi bintang bersinar di langit zaman.

Usman Awang (1964)

Sajak diabadikan untuk Almarhum Prof. Zulkifli Muhammad (1927 - 1964).

Selasa, 11 November 2008

11 November - Hari Bunga Popi (bukan Bunga Cinta Lestari ya!)

Pada 11.11.1918 ( Armistice Day ) jam 11.00 pagi telah ditanda tangani Perjanjian Damai antara Tentera Bersekutu dengan German untuk menamatkan Perang Dunia Pertama.


BUNGA POPI


Dari darah, dari nanah yang punah di tanah,
rangka manusia kehilangan nyawa disambar senjata,
hasil manusia gila perang membunuh mesra,
bunga merah berkembang indah minta disembah.

Yang hidup tinggal sisa nyawa, penuh derita,
kering, bongkok, cacat, tempang dan buta,
perang dalam kenangan penuh kengerian,
sekarang dalam kepahitan,
dalam kesepian.

Yang lain kehilangan anak, suami dan kekasih,
hilang pergantungan, hilang pencarian,
hidup kebuluran,
ribuan janda, ribuan kcewa, ribuan sengsara,
jutaan anak-anak yatim hidup meminta-minta.

Manusia gila perang telah membunuh segala mesra!
perang berlangsung mencari untung tanah jajahan!
perang berlangsung membunuh anak dalam buaian!
perang berlangsung menghantar lebur nilai kebudayaan!

Bunga popi bunga mayat perajurit bergelimpangan,
bunga darah merah menyimbah,
penuh kengerian.

Kami benci pada perang penuh pembunuhan!
kami rindu pada damai sepanjang zaman!

Usman Awang
1955


Hari bersejarah ini aku tahu dari Tukar Tiub... Selama ini pun aku bukannya tahu pasal Hari Bunga Popi ni... Yang aku tahu Flop Poppy dan Poppy Mercury aje... =)
Segunung tahniah buat Pak Isham untuk usaha mengingatkan anak-anak muda tentang sejarah dunia dan sajak Almarhum Usman Awang....